Hacker Permalukan Ahli Keamanan Cyber

Ilustrasi hacker. Foto
TEHNOgrafi - Sebuah perusahaan cybersecurity terkemuka, dipermalukan ketika database klien dicuri dan dipublikasikan secara online oleh hacker. Staf di perusahaan kontroversial, Hacking Tim menghadapi mimpi buruk, setelah data sensitif diarak di internet.

Di antara dokumen yang dibocorkan memperlihatkan bukti, jika klien termasuk rezim represif yang dikenal menargetkan aktivis hak asasi manusia. Di antaranya termasuk Sudan, beberapa negara-negara bekas Soviet, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Arab Saudi.

Ada juga bukti bahwa, perusahaan telah melakukan email korespondensi dengan baik antara Kepolisian Metropolitan dan Badan Kejahatan Nasional.

Tidak jelas, apakah data yang diambil adalah pelanggan dari perusahaan Hacking Tim atau perusahaan hanya membantu peneliti dengan pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal sensitif.

Hacking Tim sediri adalah perusahaan yang berbasis di Italia, yang telah dikritik oleh pengawas internet karena menjual produk yang sangat khusus untuk rezim bayangan.

Perusahaan ini juga terkenal karena memasok 'jasa keamanan ofensif', untuk malware dan kerentanan yang dapat mengeksploitasi kelemahan dalam sistem komputer.

Perangkat lunak khusus yang mereka kembangkan, dapat digunakan untuk menyusup ke smartphone dan komputer, dan juga kepada juru kampanye untuk digunakan untuk secara ilegal.

Tetapi hacker muncul dan masuk ke server internal perusahaan, lalu mempublikasikan dokumen rahasia di akun Twitter-nya, yang diberi nama 'Tim Hacked'.

Lebih dari 400GB data mereka dapatkan, setara dengan 36 juta halaman teks termasuk email, faktur, foto, dan Skype panggilan telepon video, dan semuanya diposting online.

Satu pesan menunjukkan, jika perusahaan ini bernegosiasi dengan pihak ketiga untuk mengekspor malware ke Nigeria, sesuatu yang mungkin telah melewati kontrol di Italia.

Seorang juru bicar daria Privasi Internasional mengatakan: "Kebocoran telah menunjukkan bagaimana Hacking Tim membantu beberapa rezim paling represif di dunia--dari Bahrain ke Uzbekistan, Ethiopia ke Sudan--untuk memata-matai warga negara mereka."

Sedangkan dalam pernyataan sebelumnya, perusahaan Hacking Tim mengatakan mereka melarang 'keras' dan memastikan perangkat lunak tidak dijual kepada Pemerintah dalam daftar hitam Uni Eropa, AS atau NATO.

No comments

Berkomentarlah yang baik dan membangun